Pengenalan Kamera dan Dasar Fotografi: Panduan Singkat untuk Pemula

Pengenalan Kamera dan Dasar Fotografi: Panduan Singkat untuk Pemula
Photo by Isen Jiang / Unsplash

Memotret mungkin kelihatannya sepele—tinggal arahkan kamera lalu tekan tombol. Tapi, bagi yang ingin benar-benar mendalami hobi ini, fotografi pastinya lebih dari sekadar "jepret". Sebelum kita berburu foto di jalanan Kota Blitar atau menangkap senja di tepian Sungai Brantas, ada satu langkah awal yang wajib dilewati: mengenal alat tempur kita sendiri, alias kamera.

Lewat tulisan di lensa.my.id kali ini, Penulis ingin berbagi panduan dasar belajar fotografi. Mulai dari jenis-jenis kamera yang bertebaran di pasaran, sampai istilah-istilah teknis seperti segitiga exposure, yang sebenarnya ngga serumit kedengarannya.

Monggo, kita bahas pelan-pelan!

1. Memilih "Senjata" yang Tepat: Jenis-jenis Kamera

Sekarang ini, opsi kamera untuk pemula lumayan membuat bingung, saking banyaknya. Tapi secara umum, kita bisa membaginya menjadi beberapa kategori utama:

DSLR (Digital Single-Lens Reflex)

Ini adalah kamera legendaris yang menggunakan sistem cermin di dalamnya. Bodinya agak bongsor, tapi daya tahan baterainya juara dan pilihan lensanya (dari sudut lebar sampai tele) sangat melimpah.

Mirrorless

Nah, ini versi modern dari DSLR. Sesuai namanya, dia tidak lagi menggunakan cermin, sehingga bodinya bisa jauh lebih ringkas. Performanya menyaingi DSLR, malahan sistem autofocus dan perekaman videonya sekarang jauh lebih canggih.

Point & Shoot (Kamera Saku)

Kalau Anda tipe yang malas ribet mengatur setting, ini jawabannya. Tinggal hidupkan, arahkan, jepret. Sangat pas untuk jalan-jalan santai. Istilah lain dari jenis ini yang populer di masyarakat adalah Digicam, atau Digital Camera.

SLR (Single-Lens Reflex)

Ini adalah "eyang" alias pendahulu dari kamera DSLR modern. Secara mekanis sangat mirip dengan DSLR yang menggunakan pantulan cermin (sehingga apa yang Anda lihat di lensa sama dengan yang dibidik), bedanya kamera SLR mengandalkan rol film klasik, bukan sensor memori digital. SLR memegang rekor sebagai jenis kamera analog paling dicintai sepanjang masa.

TLR (Twin-Lens Reflex)

Kamera yang satu ini sangat unik perawakannya karena memiliki dua lensa kembar atas dan bawah. Lensa bagian atas digunakan khusus untuk membidik gambar (cara membidiknya pun fotografer menunduk melihat layar kaca yang ada di atas kamera). Sementara lensa yang posisinya di bawah, berfungsi untuk menangkap cahaya memindahkannya utuh ke lembar rol film.

Kamera Analog Lainnya

Buat yang suka vibes retro, selain menggunakan SLR atau TLR, Anda mungkin pernah melihat bentuk Rangefinder mungil atau Toy Camera. Karena sama-sama pakai rol film, hasilnya tidak bisa langsung dilihat, tapi mereka punya "nyawa" serta warna klasik yang jujur saja, susah ditiru persis oleh sensor digital kekinian manapun.

2. Jantungnya Fotografi: Segitiga Exposure

Inilah ilmu paling basic tapi paling sakti yang harus dikuasai setiap fotografer. Segitiga Exposure adalah rumusan tentang bagaimana kita menyeimbangkan tiga pengaturan di kamera supaya foto kita tidak terlalu gelap (underexposed) atau malah terlalu menyilaukan (overexposed).

Kalau Anda sudah paham ketiga hal ini, tombol dial di kamera yang tadinya nyangkut di "Auto" pasti bakal perlahan bergeser ke mode "Manual".

Tiga pilar dalam Segitiga Exposure itu adalah ApertureShutter Speed, dan ISO. Bagaimana cara kerjanya?

A. Aperture (Diafragma) - Membuka Gerbang Cahaya

Aperture adalah ibarat pupil mata kita. Dia adalah lubang di dalam lensa yang bisa melebar atau menyempit untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk ke sensor. Selain soal cahaya, Aperture lah yang juga mengendalikan Depth of Field (DoF) alias ruang tajam. Dengan kat alain, bokeh tidak nya suatu foto, sangat dipengaruhi oleh nilai aperture ini.

Aperture bisanya ditandai dengan huruf "f" (misal: f/1.8, f/8, f/16).

  • Bukaan Lebar (Angka f kecil, misal f/1.8): Cahaya yang masuk deras. Efek samping cantiknya: latar belakang jadi blur atau bokeh. Sangat klop untuk memotret potret manusia.
  • Bukaan Sempit (Angka f besar, misal f/16): Cahaya yang masuk sedikit. Hasilnya, ruang tajamnya luas mulai dari objek di depan mata sampai gunung di latar belakang. Ini setingan wajib buat foto landscape.

Masih bingung? Coba bayangkan Anda lagi memotret, lalu ada sebuah "zona hijau" transparan memanjang dari lensa Anda. Apapun yang masuk ke dalam zona hijau ini bakal terlihat tajam di foto.

  • f/1.8 (DoF Dangkal): Zona hijaunya setipis kertas. Hanya meng-cover satu objek saja, sisanya ngeblur.
  • f/8 (DoF Sedang): Zona hijaunya agak tebal, bisa mencakup objek di depan dan sedikit di belakangnya.
  • f/16 (DoF Luas): Zona hijaunya super tebal! Mulai dari pepohonan di depan kita sampai barisan bukit di kejauhan, semuanya masuk zona tajam.

Coba amati ilustrasi ini:

sumber : https://digital-photography-school.com/3-ways-effect-depth-field/

Panduan Best Practice: Kapan Memakai f-stop Berapa?

Sebagai fotografer yang sering turun ke jalan atau alam, tak jarang kita dituntut bisa mengambil keputusan cepat soal f-stop. Berikut adalah "contekan" (best practice) nilai Aperture yang paling umum dipakai profesional di lapangan:

  • f/1.4 hingga f/2.8 (Bukaan Ekstrem): Adalah resep rahasia untuk foto profil (Portrait) yang menghasilkan efek bokeh dramatis, seolah subjeknya terpisah dari background. Sangat heroik juga dipakai memotret di kafe remang atau jalanan malam karena membutuhkan banyak cahaya.
  • f/4 hingga f/5.6 (Bukaan Menengah): Standar fotografer liputan atau dokumentasi. DoF yang dihasilkan cukup aman untuk memotret group portrait (foto rombongan/keluarga) di mana Anda butuh backgrund sedikit buram namun semua orang dalam satu baris tetap fokus sempurna.
  • f/8 hingga f/11 (Bukaan Sweet Spot): Ketajaman maksimal lensa (yang disebut sweet spot) hampir selalu dipilih di angka ini. Wajib dipakai saat berburu foto landscapecityscape, atau arsitektur bangunan di kondisi terang.
  • f/16 hingga f/22 (Bukaan Terkecil): Dipakai sewaktu butuh ruang tajam yang sangat ekstrem dari ujung jempol kaki sampai awan di langit (biasanya pakai tripod). Sering dipakai memotret macro (serangga sangat dekat) atau memotret matahari memancar layaknya bintang (sun-star effect).

B. Shutter Speed (Kecepatan Rana) - Main-main dengan Waktu

Jikalau aperture tentang seberapa lebar pintunya dibuka, Shutter Speed adalah tentang seberapa lama pintu itu dibiarkan terbuka. Shutter speed adalah penentu saat kita saat berhadapan dengan objek yang bergerak.

  • Rana Cepat (1/1000 detik ke atas): Fungsinya seolah membekukan waktu. Pas banget untuk memotret olahraga yang bergerak cepat atau bisa juga untuk menghentikan cipratan air.
  • Rana Lambat (1/10 detik ke bawah): Karena pintunya dibuka cukup lama, maka gerakan akan terekam sebagai jejak yang halus. Efek ini sering dipakai untuk membuat foto air terjun terlihat sehalus kapas atau bikin lampu mobil di malam hari memanjang seperti laser.
  • Rumus Anti-Blur: Aturan 1/Focal Length
    Salah satu kendala terbesar saat mulai berani menggunakan Shutter Speed agak lambat adalah hasil foto yang rawan menjadi blur (kabur/goyang) akibat getaran tangan sendiri (juga dikenal dengan camera shake).

    Terdapat satu "aturan emas" tak tertulis untuk patokan shutter speed minimal supaya hasil Anda bebas goyang: Gunakan kecepatan minimal 1 per hitungan Focal Length lensa.
  • Jika Anda memotret memegang lensa 50mm, maka shutter speed paling lambat yang dibolehkan (agar aman) adalah 1/50 detik.
  • Jika menggunakan lensa panjang tele 200mm, maka pastikan kecepatan Anda tidak lebih lambat dari 1/200 detik.

Namun dengan resolusi sensor digital modern yang sekarang sangat rapat, kamera menjadi sangat sensitif terhadap goyangan sekecil apa pun. Karenanya, banyak street photographer yang berpegangan pada double safety alias menggunakan 1 / (2x Focal Length). Artinya, memakai lensa 50mm kini lebih disarankan mengatur shutter speed di angka 1/100 detik demi hasil yang tajam maksimal.

C. ISO - Si Sensitif

Makin besar angka ISO, makin sensitif pula sensor kamera terhadap cahaya. Biasanya kita menaikkan ISO saat lagi memotret di tempat yang kurang cahaya (kondisi low-light) agar gambarnya tidak gelap gulita dan shutter speed tetap terjaga agar gambar tidak goyang.

  • ISO Rendah (100 - 400): Hasil gambarnya halus, jernih, dan tajam. Selalu usahakan pakai ISO serendah mungkin selama cahayanya melimpah.
  • ISO Tinggi (3200 ke atas): Menyelamatkan foto di kondisi gelap, tapi ada harga yang harus di bayar. Foto akan muncul digital noise alias bintik-bintik kasar yang kadang mengurangi ketajaman detail.

3. Praktik Langsung: Jago Pakai Mode Pemotretan Kamera

Teorinya sudah, nah sekarang praktiknya bagaimana? Singkatnya begini, di bagian atas bodi kamera Anda pasti ada tombol dial berisi huruf-huruf. Itu biasanya disebut roda mode (Mode Dial).

Kamera modern memang didesain menyesuaikan seberapa mager atau seberapa perfeksionisnya Anda:

  • Auto (Simbol Hijau): Kamera yang mengatur semuanya. Anda fokus framing dan menunggu momen pas aja. Mode darurat kalau dikejar waktu.
  • P (Program): Setengah auto. Kecepatan dan diafragma diatur kamera, tapi ISO dan warna masih ada di tangan Anda.
  • A atau Av (Aperture Priority): Ini nih rahasia dapur street photographerAnda cuma perlu mengatur bukaan diafragmanya (Aperture), kamera yang mengatur shutter speed-nya secara otomatis. Cocok dipake pas Anda buru-buru pengen bikin latar jepretan jadi bokeh.
  • S atau Tv (Shutter Priority): Kebalikannya dari Av. Anda mengunci kecepatan rana (Shutter Speed). Wajib digunakan kalau misal lagi liputan balap inline skate, sepeda atau ingin sengaja merekam jejak cahaya di keramaian kota saat senja.
  • M (Manual): Anda sepenuhnya pegang kendali. Ketiga pilar Segitiga Exposure harus diatur sendiri untuk hasil jepretan sesuai dengan keinginan. Butuh jam terbang memang, tapi hasilnya pasti presisi sesuai keinginnan Anda.

4. Urusan Warna Jangan Lupa: White Balance

Pernah ngopi siang-siang bareng di coffee shop, jepret foto-foto, eh lho kok kulit orang di foto warnanya jadi kepiting rebus atau malah oranye keemasan semua? Nah, itu salah setting White Balance (WB).

Intinya begini, tiap sumber cahaya punya "temperatur" tersendiri. Sinar mentari bikin suasana cerah natural, langit mendung sifatnya agak biru (dingin), sementara lampu pijar bohlam di kafe itu sangat kuning (hangat).

Tugas White Balance adalah mengakali ini biar warna putih tetap dibilang putih oleh kamera, bukan putih kekuningan. Meskipun mode Auto White Balance (AWB) bawaan pabrik udah jago, mengenali fitur ini membuat foto langsung sedap dipandang walau tanpa diedit. Pilihannya beragam: Daylight (cahaya terik siang), Cloudy (berawan biar nuansa tambah hangat), atau Tungsten (kalau ketemu lampu ruangan kuning pekat).

5. Menyingkap Rahasia Lensa: Focal Length dan Kompresinya

Terakhir, tapi ngga kalah pentingnya: Focal Length. Dalam bahasa awam, angka ini biasanya dipanggil dalam hitungan milimeter (mm). Angka ini berfungsi menunjukkan seberapa luas sudut pandang jepretan kita.

  • Wide Angle (10mm - 35mm): Sudut pandangnya jembar! Menampung banyak cerita dalam satu kanvas. Lensa idaman buat jepret keramaian pasar, alun-alun kota, atau lanskap alam memukau semacam di Jembatan Swereg.
  • Standard (50mm): Dijuluki lensa 'mata normal' karena memberikan dimensi jarak pandang paling akurat sama persis pandangan visual manusia. Bagus buat merekam detail aktivitas atau foto profil (portrait).
  • Telephoto (85mm - 600mm): Sudutnya lebih sempit, layaknya memicingkan mata pakai teropong. Keunggulannya jelas bisa ngintip subjek jauh sedekat di depan hidung.

Ada Sihir Namanya: Efek Kompresi Lensa

Percaya atau ndak, beda ukuran mm lensa itu dampaknya luar biasa sama latar belakang foto. Bukan sekadar masalah nge-zoom dekat-jauh aja! Konsep ini biasa disebut Lens Compression.

Mari kita umpamakan Anda sedang memfoto teman dengan proporsi badan yang disamakan besar di jendela bidik menggunakan jenis lensa yang beda-beda (pastinya Anda harus jalan maju/mundur agar ukurannya tepat).

  • Waktu dilirik pakai lensa Wide (24mm): Latar belakang gunung bakal kelihatan miring mundur alias puaass banget luasnya tapi berjarak super jauh.
  • Pas dipotret pakai lensa Tele (200mm): Nah! Gunung yang jauuuuh tadi seakan-akan disedot merapat dan menempel rapat tepat di baliknya punggung subjek kita. Menghasilkan gaya jepretan compressed yang dramatis sekali.

Kalau kurang kebayang perbedaannya, bandingkan sendiri keajaibannya di ilustrasi ini:

6. Kanvas Cahaya: Mengenal Berbagai Ukuran Sensor

Nah, hal terakhir yang tidak kalah penting untuk diketahui selain bodi kamera dan lensanya adalah "otak" di baliknya: Sensor Kamera. Sensor adalah kanvas digital tempat cahaya "dilukis" menjadi sebuah foto.

Kenapa ukuran sensor ini selalu jadi perdebatan sengit? Sederhananya, makin besar ukuran fisiknya, makin banyak cahaya yang bisa ditangkap. Alhasil, kualitas fotonya di malam hari akan semakin bersih dari noise, serta semakin lebar pula sudut pandang yang dihasilkannya. Tentu, konsekuensinya lensa dan kameranya jadi lebih berat dan mahal.

Berikut rentetan "kasta" ukuran sensor kamera digital, yang disusun dari yang paling sultan sampai yang umum kita pegang:

  1. Medium Format: Kasta tertinggi. Sensornya luar biasa besar. Kualitas detailnya tiada tanding. Biasanya ini adalah "senjata" buat fotografer kelas atas untuk memotret billboard komersial raksasa atau fashion.
  2. Full Frame (35mm): Ini dia "standar emasnya" para pekerja profesional dan purist fotografi. Luas sensornya persis seukuran satu potong rol film analog jadul.
  3. APS-C (Crop Sensor): Ukurannya terpotong lebih kecil sedikit dibandingkan Full Frame. Harganya jauh lebih bersahabat dan lensanya cukup enteng. Menjadi senjata idaman sejuta umat maupun para traveler.
  4. Micro Four Thirds (MFT): Sensornya lebih mungil lagi. Kelebihannya? Kamera dan lensa MFT bisa dibuat jauh lebih ringkas (compact). Ukuran sensor ini sering dicintai para videografer karena kecantikannya dalam meredam goncangan.
  5. 1-Inch & Sensor Smartphone: Ukuran yang sangat kecil demi menyesuaikan lensa yang sangat minimalis. Di sinilah letak batas ukur rata-rata kamera saku (Pocket/Digicam), hingga ke smartphone mutakhir Anda.

Di bawah ini adalah ilustrasi perbandingan berbagai ukuran sensor dari kamera atau smartphone populer:

sumber : https://capturetheatlas.com/camera-sensor-size/

Konklusi Ringan

Pada dasarnya, kejebur di hobi ini layaknya belajar mengendarai sepeda motor kopling manual. Pengenalan dasar-dasar penting seperti apa itu kamera, segitiga exposure (aperture, ISO, speed), dan focal length, barulah sebatas membaca buku manual awal.

Jangan sampai teori rumit bikin urung turun jalan buat hunting. Biarlah instrumen kamera penuhi tugasnya melukis bias cahaya. Sisanya, angkat saja kamera yang Anda miliki, melangkah keluar, asah insting di tikungan-tikungan kota yang ramah, lalu temukan ceritamu sendiri.

Salam jepret!

Sumber :
https://capturetheatlas.com/camera-sensor-size/
https://digital-photography-school.com/3-ways-effect-depth-field/

Subscribe for daily photos. No spam, just photography.